Kelambu langit tersibak, diantara gejolak angin yang tiba tiba menghentak
Tak kusadari sepenuhnya tanda alam yang datang tanpa isyarat
Aku jatuh terpelanting untuk kesekian kalinya
tanpa kusiapkan diriku menghadapi badai yang mendadak muncul di siang terik
Sungguh panas nian matahari kali ini, dan meluluhkan peluh
diantara penatnya kaki yang harus tetap melangkah
Percuma saja aku teriakkan munajat munajat ke langit
karena itu tak akan mengubah kenyataan karena semua harus di lalui
dengan kesuka citaan atau duka lara
Bisa saja semua ku pertahankan namun kisi kisi dinding hati
meragukan kekuatanmu
Jika dalam satu hembusan nafas langit saja semua mendadak runtuh
porak porandak dalam ikatan rapuh
Lalu apa yang bisa menguatkan semuanya ?
Itu yang seharusnya direnungkan, bukan dengan mudah dipatahkan
dengan ungkapan ungkapan berdebu
Dalam waktu dan masa yang berbeda
semua kembali menjadi arang, dan tersulut api diantara rintik rinai hujan
yang perlahan mengguyur jalanku
Peluh dan air hujan menyatu dalam bekunya hati
karena tak mampu kurasakan dua musim dalam sekejap
Nada dan harmoni cerita , kembali tertutup mendung
disiang yang terik...
Kusiapkan diri melangkah dalam dua musim sekaligus
Sekali lagi.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar