Minggu, 24 Juli 2011

Surat Kepada Lelakiku.....

Kepada lelakiku...
Apa kabarnya dirimu ?
Lama kiranya kau tak bersua dalam bilik hati
Tidakkah engkau rindu padaku ?
Bukankah setiap saat engkau selalu berkata kangen, sayang dan cinta ?
Lalu kemanakah semua itu kau sembunyikan ?

Lelakiku....
Bencikah dirimu dengan hubungan kita ?
Yang tak kunjung usai dengan debat kusir antara nafsu dan cinta palsu yang penuh kehampaan 
Hingga membuat jungkir balik antara logika dan nalar tak ubah seperti seutas benang merah 
yang kusut masai 
Jika alasan tak ubahnya sanggahan dan prasangka , 
lalu mengapakah kau cintai diriku sampai darah hampir mengering dalam peluhmu ?
Sementara kesanggupan dalam meniti tangga kehidupan tak kutemukan awalnya

Duhai Lelakiku....
Dalam kelelahan yang tak pernah kunjung larut
mengapa sekelebat bayangmu justru menggoda nadirku ?
dan membuat kuberfikir, 
bahwa memang benar..... engkau  Lelakiku.....

Jumat, 22 Juli 2011

Dialog Tak Beralur....

Pergi.... itukah yang kau mau ?
Bukan, itu hanya kiasan 
Lalu apa yang akan kau kejar dengan terus berlari tanpa henti ?
Aku hanya ingin bergerak dengan sayap yang tak kunjung mengepak
Jika engkau bukan seekor elang lalu mengapa kau paksa menukik ?
Hanya sekedar ingin tau ada apakah nun jauh disana 
Dan apakah sudah kau temukan yang engkau mau ?
Tak bisa kujawab karena aku tidak pernah tau jika tidak mencernanya
Mengapa tak kau renungkan dahulu jika nyatanya engkau belum bisa menebak maknanya ?
Aku diam seribu bahasa...... 

Rabu, 06 Juli 2011

Jeda diantara lelah

Dalam meniti asa kutau bahwa semua tak akan mudah dalam menempuhnya
Aral yang kan menjebak dan membawa bilur bilur kelelahan, kepahitan 
atau bahkan tangisan darah kan temani setiap perjalanan yang bakal kutempuh
Jika sudah kutau semua tak mudah dilalui maka apakah aku harus berbalik arah ?
Tentu saja tidak !

Namun tak cukup buatku pula dalam mengelak kehendak alam akan datangnya
setiap alur alur hidup yang akan sertai aku

Sesaat aku berhenti menghela nafas dengan dengusan panas diantara dinginnya dinding
Aku meraba peluh yang tak pula mampu menetes meski ada tangisan hening diantara 
amuk amarah yang membuncah kala ada desiran celoteh hina yang menendang harga diri
Mampukah aku membendung gejolak diantara kesejukan yang masih kurasakan diantara 
aliran denyut nadi gairahku ?

Sungguhpun aku ingin berlari kencang namun sepoi angin tak biarkan derap langkahku
berada dalam jalur yang salah....
Baiknya aku diam sesaat dan melihat kala surya masih menuntun dalam penerang langkahku
Dan kan kujejakkan sebuah tanda saat kutemui sebuah karang kelak
Bahwa kusanggup mengukir asa yang sesungguhnya......