Sabtu, 30 April 2011

RINDU INI MILIK SIAPA ?

Segumpal rindu berada dalam genggaman 
Tak ingin kutumpahkan pada tempat yang salah 
kusimpan dengan kasih juga dengan sayang dan tak 
kubiarkan mengering walau musim terus saja berganti pola


Kepada siapa layak kutitipkan bila nantinya aku lelah ?
Bukankah pernah terbuang dengan sia sia saat semua terangkai
dengan padu padan yang sempurna dimataku
Aku hanya berdiri diantara ramainya suara yang tawarkan 
kepalsuan diantara manisnya hiruk pikuk cinta
yang berlalu lalang diantara bayangan hampa


Lalu jika harus kulangkahkan lagi
kuingin jejak yang kutinggalkan tak ada bekas
yang kan rapuhkan jiwaku
Maka rinduku masih kan ku genggam dalam letihnya asa yang melunglai.....

Kamis, 28 April 2011

Sepenggal Pesan Yang Terlambat

Nelangsaku kembali merebak saat engkau mendadak pergi
Aku larut dalam senyap yang tak pernah kuinginkan 
Ada apa dengan jiwa yang selalu jadi pelita hati ?
Hingga kepergianmu membuatku menjadi seperti bayi
yang tak ingin ditinggalkan sang penjaga hati


Sendu yang menyelimuti kalbu tak ubahnya mendung
yang menyeruak diantara getir yang haus dahaga kasih sayang
Sama halnya saat yang lain tinggalkan diriku dalam 
kesunyian padang savana yang gersang 


Tangisan kalbuku seakan tak kau hiraukan lagi
Aku terpaku sesaat hingga diamku seakan memang
kau paksakan harus kutautkan dalam perihnya batin sunyi
Langit yang cerah mendadak gelap
seakan gulita ini sengaja kau ciptakan agar aku mampu berjalan dalam kegelapan hati


Jalanan yang kutelusuri kembali lengang,
tak ada lagi suara dan cercaan yang mengubahku menjadi
gadis periang
Bangku yang selalu jadi tempat kita bercengkerama mendadak bisu
bersama dengan sepoi angin yang menyayat hingga aku 
menggigil dalam kesedihan


Jika saja kau beri kesempatan
ingin kubisikkan pesan yang tersembunyi 
"Jangan pergi, aku masih membutuhkanmu..."


Bilakah suara hati kau dengarkan ?

Selasa, 19 April 2011

Sebait Rindu Dari Lara Hati

Dalam jeda nafas yang kuhirup
ada hentakan batin yang ingin teriakkan kata kata dalam
sebuah lorong sunyi
entah hanya sekedar melepas belenggu rasa ataupun karena
aku lelah...
Peluh yang terkuras mendadak kering dalam sekedip mata 
Kemanakah aku harus terlelap ?
Aku rindu untuk pulang setelah menapak dalam terjalnya cadas 
yang terus kudaki sampai ke titian asa yang tak temukan beranda


Memang sudah inginku terus berjalan tak menoleh kebelakang
tanpa harus berujar dengan sejuta alasan yang tak seharusnya terucap
Dan inilah nyata yang sebenarnya
Kusadari sepenuhnya bahwa bekunya labirin kesunyian tentulah bukan
karena tak ingin kusinari dengan cahaya kosong
Tak mau pula menjadi makhluk angkuh yang mentasbihkan hati
pada sabda cinta palsu hampa


Aku adalah jiwa yang sedang terpasung dalam ketersesatan
jalur yang meingkar selalu memutar balikkan diri pada rotasi tak berujung
kemana jalan yang semestinya kulalui
Aku harus bisa temukan titik balik yang sesungguhnya
walau itu harus kulalui dengan waktu yang terlambat
Istirahatlah sejenak jiwaku,
kubiarkan sesaat engkau menghirup udara walau dalam celah setitik


Aku hanya  rindu untuk pulang....
dan asaku tetaplah terus temukan jalan untuk pulang....

Senin, 11 April 2011

Move On

Disinilah duniaku sekarang,
gelap dan tenang
Tak ada suara suara sumbang nang melengking
apalagi hingar bingar gemuruh cemooh yang nyaring
Hanya berteman dengan alam liar yang takkan hiraukan kehadiranku

Sengaja kusiapkan sedari awal 
agar aku bisa merasakan kesejukan udara
diantara pengapnya nafas nafas kemunafikan
Aku bisa menjadi apa saja yang kumau
tanpa dipandang asing bak makhluk dari berantah 

Inilah rumahku sekarang
jauh dari liarnya dunia palsu hampa
dan tak perlu hidup dalam kepura puraan
Terlebih kubebaskan hati mengelana menelusuri
alur sungai kehidupan yang berliku

Sejenak aku berfikir mana yang harus aku dahulukan
rehat di padang savana berkawan rumput liar
ataukah kukeluarkan gitar kasihku
Sepertinya aku rindu bernyanyi seperti saat 
duduk di tepi pantai kerinduan yang selalu menepi
Kusiapkan saja gitarku walau senar cintaku telah putus
kupetik lagu kesenangan dengan senandung lirih kutautkan
musikku kembali terdengar walau sedikit sumbang
ah..biarlah hanya aku dan rerumputan yang dengar
tak ada seorangpun disekitarku
Aku kembali bernyanyi iringi sepoi angin yang turut menari
diantara langit yang mendung 

Suara hati...
dengarkan laguku untukmu...

Minggu, 10 April 2011

Pernikahan Alam Baka

Tetes kerinduan bersandar di dermaga sepiku
berjajar dengan bulir bulir kenangan yang lama berlalu
Sesaat aku seperti dalam dimensi lain
hingga tanpa kusadari sesosok bayangan perlahan menghampiri
Sungguh aku mengenali dirimu, wajah yang selalu membekas dalam 
setiap bait bait tasbih yang seakan tak lepas dalam munajat kecintaanku

Senyum yang tersungging serupa dengan yang dulu selalu kau berikan
dalam ucapan dan salam 
Subhanallah.... kerinduanku begitu menyala dengan bara yang sama sekali
tak pernah padam sedikitpun
Bagaimana bisa aku lupa dengan dekapan hangatmu
kala dingin menyesap dalam malam malam sepiku
Tak pernah sekalipun engkau mengeluh meski kelelahan jelas tersirat
Kau ada saat yang lain tak ada

Aku masih takjub dengan kehadiranmu 
setelah bertahun tahun engkau pergi
dengan meninggalkan bekas kesedihan yang mendalam
dan tak pernah bisa kututupi dengan cara apapun
Meski musim selalu berganti dengan acuan waktu
Yang selalu kuingat , 
kau titipkan pesan rahasia yang hanya aku saja tau
Ya...
Aku sangat kehilanganmu...

Tersadar kembali dari kenangan biru itu 
tiba tiba muncul dari ujung yang lain seseorang yang begitu
kukenal pula
Hai.... ada apa hari ini, seakan akan semua terencana
semua datang disaat yang entah tepat 
ataukah memang sudah dikehendaki 

Tawaku lepas dengan rasa yang semakin membuncah
ini bukan hari jadiku, namun seakan pesta akan digelar
Hey.... siapa yang akan berpesta ?
Adakah pernikahan akan digelar ?
Siapakah mempelainya ? 
Rupanya kisah Romeo akan terulang 
Ataukah kisah Adam dan Hawa yang lebih tepat dijabarkan ?
Kisah kasih pilu dalam roman kehidupanku 
memberikan warna lain diantara kelamnya cerita cinta
dan memberikan silauan diantara cermin yang retak
Sungguh meski raga tak lain berteman dengan nyawa
balada kasih yang terkubur tetaplah jadi bagian klasik 
yang akan selalu mempunyai ruang tersendiri


Aku sungguh bahagia melihatmu bersanding kembali
entah aku tak  tau dibalik kejadian ini
 meski ada sebuah tanya hati
Apakah kalian benar benar telah bertemu di alam sana....?
Aku hanya ingin bisikan sesuatu


Tunggulah aku di rumah kehidupan selanjutnya....








* Tribute to my beloved aunty (she already passed away in 1991) and my beloved uncle ( he already passed away in 2002 ) They were loving an each other until the end of time and the best couple I ever had and knew

Love u all.....( U & P )
 

Senin, 04 April 2011

Aku dan Piano Tua

Sudah lama ku tinggalkan kebiasaanku setiap jeda waktu
merenda nada mengutip syair hingga menjadi sebuah nyanyian rindu
Bersama teman lamunanku selalu kuterbuai dalam khayalan
Apa kabarnya teman sejatiku hingga aku melupakanmu


Beranjak menuju sudut ruang kuhampiri dirimu
Kusam tubuhmu telah kuabaikan sampai waktu tak bisa kuingat 
sudah berapa lamakah aku melupakanmu ?
Perlahan kubuka selimut yang selalu menghangatkan tubuhmu 
debu terusik hingga mengepul bak asap kasat 
Sungguh aku merasa bersalah telah membiarkan tubuhmu menjadi begitu lusuh

Sesaat aku tak dapat berfikir apa yang ingin kulakukan terhadapmu
Namun percayalah, aku sangat merindukanmu
Kusapa dirimu, engkau hanya diam
aku paham akan kemarahanmu
Kubuka dirimu dengan kasihku yang masih sama kuberikan dahulu
berharap engkau masih merasakan getaran yang sama


Jemariku mulai gerakan kunci kunci nada yang selalu kita rangkai
bermain irama bersama harmoni
bercanda dengan lagu lagu cinta yang selalu jadi tempat yang tepat
sandarkan lamunanku
Melodiku mulai mengembara, hadirkan khayalan berkelana menelusuri taman hati yang sudah lama senyap tanpa nyanyian dan bait bait kerinduan


Nadaku semakin mengalir, dengan dendang yang lirih kita berkolaborasi 
sampai pada titik menjelang puncak irama tiba tiba aku hilang suara
Bukan...bukan aku tapi kamu.
Kemana satu kunci nada itu pergi ?