Jika saja hati bisa ku bingkai
maka aku ingin memajang di sudut dermaga
agar hembusan angin laut mampu mengeringkan kerak hati
Andai lukisan jiwa bisa kugambarkan dalam abjad yang bergulir,
ingin kujabarkan dalam aksara yang terangkai makna
agar engkau mengerti arti dari setiap ejaan yang tercipta adalah rasa hati yang ingin bernyanyi
Musim....
selalu datang silih berganti sesuai dengan rotasi waktu
tak pedulikan setiap detik yang tercatat dalam diary alam
ketika terik membakar membaur bersama peluh dan penat
aku terkapar dalam kegersangan dan dahaga yang menyiksa
Begitupun saat rinai hujan membasuh pilar pilar batin yang kerontang
lembab dan perlahan membeku , tetap saja aku bagai patung yang menggigil
Waktu...
detik, menit, jam, hari berganti dan terus berlari
tak mengijinkan siapapun tuk hentikan sesaat walau hanya untuk sekedar menghirup udara atau hembuskan kelelahan
berputar...terus menggapai apapun yang ada di depannya
dan tak bisa kuubah tuk berpaling sejenak ,
mengambil sisa kisah yang terlanjur tertelan
yang entah berserakankah ataukah terlanjur terbuang
Aku hanya tak tahu, kemana akan merapatkan rakit
menghela sejenak agar tak tersesat lagi dalam jalan yang salah
Aku hanya ingin tertidur sedetik, agar mata ini tak terus memandang hampa dalam kerinduan yang tak kunjung temukan titik akhir
Aku hanya.... ah sudahlah,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar