Semburat cahaya merah memercik dalam binar mata
saat menatap dengan nanar wajah yang begitu kukenal
entah apa yang terbersit hingga bulir bulir air
mendadak mengalir tanpa terbendung,
bukan tangis sesal yang mengisi relungku
juga bukan kebencian yang kuratapi
aku tertunduk pada kenyataan yang tak kuingini ...
Saat langit kubiarkan merona semburatkan jingga dan ungu
kukira itu indah bila disaksikan dalam lamunan senja
namun aku salah menduga ketika tiba tiba ufuk tak
segera nampak gelap
Terang cahaya yang entah tak kuduga telah menohok
dalam pandangan
silaunya telah membutakan setiap syaraf panca inderaku
Tuhan....
butakah aku dengan setiap pandangan yang tiba tiba
Kau rengut ?
Bukankah mata ini begitu sempurna kala Kau sematkan
pada tubuh ini ?
Gelap yang kunaungi , telah hantarkan pada sebuah tanya besar
Apa yang tengah terjadi pada diriku ?
Selasa, 07 Juni 2011
Senin, 06 Juni 2011
Tiba juga akhirnya ....
Surat itu datang padaku
dalam coretan kusam penuh dengan bekas air mata sesal
perlahan kubaca dengan hati membuncah
getar kurasakan dengan nadi yang berdetak kencang
gemuruh hati buyarkan pikiran sesaat
namun aku paham tulisan itu telah bertutur dalam
bait ketidak berdayaan,
Bicara hati, bicara rasa
kadang sulit memahami tanda-tanda alam yang berbalut
kepalsuan, apalagi mencerna dengan nalar yang sesak
saat gulana menyelinap dalam setiap hati yang merasa hampa
menelusuri lorong lorong yang entah akan mengarah kemana
pada akhirnya akan bersandar pada karang yang tak bersamudra
Aku memahami setiap keadaan karena inilah yang akan kutemui
dalam tahap kehidupan yang semakin berliku
Sandarkan sejenak penatmu padaku
seperti halnya aku pernah terluka pada masa silam
Hitam tak selalu gelap pekat
bila nanti ada seberkas cahaya kasih yang kan kau dapat
maka itulah kesempatan kita untuk menerangi kegelapan
jalan yang akan kita lalui
Kepada hati yang memilihku dalam berbagi...
aku akan selalu memeluk hatimu pada semestinya
dan ruangku selalu ada untukmu....Minggu, 05 Juni 2011
Memeluk nadir dalam sebuah tulisan ....
Tubuhku mendadak lunglai, dalam kesesatan yang tak bisa kuhindari
kurasa di depanku tampak pemandangan yang luar biasa
namun nyatanya hanya bias semu fatamorgana...
Berhenti sejenak dalam nafas yang menderu lagi sesak
tak hiraukan isak dalam hati yang tiba-tiba merebak
Apakah aku salah bila harus menangis dalam kelelahanku ?
Tak bisa kupungkiri nyata yang sebenarnya terjadi
bahwa hati, jiwa dan langkahku dalam gerak yang sama
ibarat sisi mata uang yang terlihat tak sama dengan rupa yang sesungguhnya
Haruskah aku berlari dalam langkah yang tertatih ?
Ataukah aku harus teriak sumpah serapah yang bukan gambarkan diriku ?
Tidak !
Bukan itu yang kumau,
bukan pula begini yang kuingini
Bagaimanapun dan dalam keadaan apapun
hanya keikhlasan serta pengharapan abadi yang tetap
harus ku pegang teguh pada jalan kehendakNya
meski semua tak sejalan dengan rencana sekalipun
aku tetap harus menjadi apa yang diminta....
Tuhan...
rengkuhMu selalu jagai aku dalam kesesatan nafsu
ambisi yang tak semestinya merebak tak ingin pudarkan
segala pengabdian yang memang selayaknya kupersembahkan
untukMu.....
ya, hanya untukMu.....
kurasa di depanku tampak pemandangan yang luar biasa
namun nyatanya hanya bias semu fatamorgana...
Berhenti sejenak dalam nafas yang menderu lagi sesak
tak hiraukan isak dalam hati yang tiba-tiba merebak
Apakah aku salah bila harus menangis dalam kelelahanku ?
Tak bisa kupungkiri nyata yang sebenarnya terjadi
bahwa hati, jiwa dan langkahku dalam gerak yang sama
ibarat sisi mata uang yang terlihat tak sama dengan rupa yang sesungguhnya
Haruskah aku berlari dalam langkah yang tertatih ?
Ataukah aku harus teriak sumpah serapah yang bukan gambarkan diriku ?
Tidak !
Bukan itu yang kumau,
bukan pula begini yang kuingini
Bagaimanapun dan dalam keadaan apapun
hanya keikhlasan serta pengharapan abadi yang tetap
harus ku pegang teguh pada jalan kehendakNya
meski semua tak sejalan dengan rencana sekalipun
aku tetap harus menjadi apa yang diminta....
Tuhan...
rengkuhMu selalu jagai aku dalam kesesatan nafsu
ambisi yang tak semestinya merebak tak ingin pudarkan
segala pengabdian yang memang selayaknya kupersembahkan
untukMu.....
ya, hanya untukMu.....
Langganan:
Postingan (Atom)