Lama kutatap tetesan air mata langit diantara pekatnya awan
Kusandarkan pikiran pada jendela hati yang tak berpintu
Seakan cuaca mampu membaca kilasan sunyi
yang nelangsakan sekelumit penat yang menggumpal
Aku rindu padamu....
Demikian hati membisikkan angin yang berdesir lirih
Apakah demikian engkau disana ?
Masihkah aku mampu memeluk embun yang setiap pagi
mencium deru nafas gairahku sisa semalam ?
Hati, tak akan teriakkan lagi sebentuk nama yang tertuang
dalam lantun kesunyian
Namun kiranya waktu bisa kugenggam selaksa detak
yang kau hentakkan
Bisakah sekelumit kata yang tertinggal dapat
melepaskan rasa yang membuncah selama ini ?
Entahlah......