Senin, 24 Januari 2011

Hanya sebuah coretan dinding

Seperti menelusuri sebuah labirin aku melangkah
menapak satu demi satu lorong yang tak tentu arah
kucoba temukan jalan keluar namun selalu terbentur dinding sunyi
Kucari kembali dengan langkah tertatih dengan penuh hati hati
Agar segera kuterbebas dari perangkapnya

Jebakan-jebakan yang kutemukan
tak lantas buatku putus asa
karena sudah demikian yang akan kutemui
sebagaimana hidup yang selalu terselimuti misteri

Kehidupan sebagaimana halnya buku yang tertulis cerita
coretan hati, dan lukisan rasa
menceritakan lakon demi lakon waktu
Ada yang terurai gamblang tapi tak sedikit yang tersembunyi
entah memang disengaja ataukah malah terpaksa demikian yang terjadi
Gontai , tertatih , terjembab , atau bahkan tiba tiba harus berlari
penuh dengan kiasan abstrak

Belum lagi cinta, yang harus tercipta dengan babak belur
penuh dengan alur yang mengharu biru, dan bahkan dengan tak terduga
bersemi walau bukan dalam musimnya
Ungkapan apalagi yang bisa di buat untuk lima huruf yang penuh
sarat makna,
Tak ada seorang pun yang bisa memaknainya dengan lazimnya
Semua penuh ungkapan, bahkan warna warni pelangi dengan pesonanya
mendadak menjadi kelabu

Apalagi yang harus di ceritakan bila semua sudah mengalir dengan sendirinya
Abjad yang tertinggal dalam pena tak akan sanggup biaskan
rasa dan amarah yang mendendam
Biarkan semua mengarah pada yang semestinya
tak perlu lagi harus di bendung bila mata air sudah lama kering
hanya kesia siaan yang akan di sesali
Jadi biarlah semua berlalu

Biarlah....

Minggu, 23 Januari 2011

Rinduku Sudah Tak Mendendam Lagi....

Jauh dalam pusara hati aku mengenalmu
mengendap bak pasir beku yang tak mungkin 
bisa kubentuk seperti yang kuinginkan  
dan tak ingin pula kuubah menjadi pola yang baru
Kubiarkan saja sama karena begitulah yang sebaiknya terjadi



Menatap langit malam yang pekat
Kurindukan hadirnya bintang pijar yang selalu
hadirkan kedip tuk tuntun jiwaku yang kesunyian
Apakah kau ada untukku saat ini ?
Jiwa rentanku merindukan sinarmu
yang jadi penghiburan di kala gulana menerpa

Celoteh hati sudah tak seperti dulu
mendadak terhenti bukan karena jengah
namun sudah tak mampu berucap kata yang sebenarnya
bukan ingin tuk mengelabui hasrat, bila nyatanya
semua sudah lewat...

Apa yang jadi inginku bila semua sudah berlalu ?
Bila saja masih bisa kuubah, bukan dengan cara yang biasanya
Karena tak bisa ku genggam lagi waktu yang tlah usai

Lalu apakah yang kutunggu saat ini ?
Berada dalam persimpangan asing dan sepi
Sesosok bayangankah atau wujud impian palsu ?

Aku letih, aku lelah
tak bisa ku berlari lagi dengan deru nafas 
yang hanya sebatas ilusiku
Tapi akupun tak mampu berhenti walau hanya
sedetik tuk raih sisa udara yang ku butuhkan


Asaku bicara rasa, namun yang tertuang hanyalah kepahitan
kecewakah bila nyata hanya seperti fatamorgana ?
Tak perlu, karena itu hanyalah ilusi
Dan aku tetap harus menatapnya walau dengan sisa perih
Aku letih dengan derita ini

Maka,
Bicaralah dengan angan kosongmu
karena rinduku sudah tak mendendam lagi

Adrian Martadinata - Ajari Aku