Rabu, 17 November 2010

Diam

Tak bersuara tak pula dapat beranjak
terpaku dalam sepi merajut angan yang tak bertepi
berlarian liar mengejar bayangan semu yang terus melayang
bagai awan yang berhias di langit, kadang berubah bentuk 
kadang merubah wujud seperti yang tak kuinginkan


Tarianku mulai tak seirama lagi dengan nada yang mulai pula sumbang
Sudahkah aku merasa bosan ??
Penat yang kurasakan seperti hanya khayalan batin
tak berasa namun letih, 
Dan memang hanya diam yang mampu redakan lelah
tanpa harus berkata dalam suara
karna hati sudah banyak bicara

Diam... dan dengarkan saja sayup sayup dentingan suara 
yang tiba tiba hadir diantara kekusyukan panca indera 
dan jangan kau gerakkan jiwamu untuk mengusik datangnya suara itu
karena tak lama lagi akan menghadirkan kesunyian diantara hingar bingar
irama yang silih berganti memainkan peranan harmoni agar tak terdengar
saling mendahului

Dan benar saja... apa yang terbaca adalah wacana 
keriuhan itu kini tak terdengar lagi
memang cukup hanya dengan diam
dan jangan bersuara lagi....

Sudahlah.... renungkan saja dalam diammu



Nina - Is it over

Selasa, 16 November 2010

♥The saddest song ever written.. And the most beautiful..♥

R.H ( aku ingin berkisah tentangmu...)

Kisah bermula ketika aku datang memenuhi panggilan kerja di sebuah media
saat berjumpa dengan dirimu, aku benar benar terpikat oleh auramu
Bukan saja wajah yang menarik namun diantara tubuh lusuhmu ada segumpal 
keindahan yang tersimpan penuh misteri..
Kau sapa diriku dengan pesona senyummu yang bikin mabuk kepayang
tersungging seulas senyum sambil kau jabat tanganku
Aku bergetar , aku terpana sesaat sampai akhirnya kau lepas kembali 
jabatan erat tanganmu


Kau adalah cinta pertamaku....


Tak terkira olehku jika ini akan jadi kisah dalam hari hari kerjaku
Kau berikan semangat dengan bara yang menyala setiap pagi,
dengan kharisma dan motivasi yang ku pandang beda dari yang lain
Kukatakan dalam hati, aku suka caramu...

Kau... 
Seperti tetesan embun yang jadi penyejuk jiwa yang gersang
Kau hembuskan nafas kerinduan yang aku dambakan
namun aku hanya bisa menikmati dari jauh karena aku takut dan ragu
Gitar dan puisi yang sering kau tampilkan padaku demi mengingat
setiap orang yang pernah ada dihatimu seakan tak dapat mengubah pikiran
dan gejolak hatiku yang ingin berteriak, aku jatuh cinta....

Kau begitu percaya diri mampu mengikat setiap wanita yang kau ingini
tapi itu bukan aku,
Kau serukan bait bait cinta pada wanita yang kau damba
tapi itu bukan untukku
Aku resah, aku cemburu, namun aku hanya bisa membisu
sampai akhirnya... salah satu sahabatmu tahu bahwa aku menaruh hati padamu
Kuakui padanya betapa aku menyayangimu, namun apa daya ku tak kuasa dapat 
ungkapkan apa yang jadi inginku
Hingga akhirnya aku seperti berhenti pada ujung jalan yang tak ada tujuan


Ketika aku harus mengakhiri karir , ada kesedihan yang membuncah karena
aku harus kehilangan dirimu
Aku menghilang tanpa jejak untuk memenuhi panggilan keluarga di perantauan
kuharap kau mengejarku tapi nyatanya itu sungguh mustahil
sangat mustahil...
sampai saat kembali , kucoba mencari dan tetap mencari dirimu
meski hanya sebuah kabar itu bisa buatku tenang dan lega


Dan suatu hari tak sengaja aku bertemu denganmu (lagi ),
kau begitu berbeda dari yang dulu ku kenal
Kau begitu rapi, tak ada kuncir rambut panjangmu dan tubuh kumalmu
Aku takjub dan senang karena kau jauh lebih menarik walau sesungguhnya
aku lebih suka tampilan lamamu
Kita saling berbagi cerita, kenangan saat bersama sebagai patner kerja
sampai akhirnya kau cerita kegundahan hatimu karena begitu banyak beban 
yang kau tanggung atas nama keluarga
Aku sedih, trenyuh, terharu dan ingin memelukmu
tapi rasanya ada tembok tebal yang jadi penghalang


Kucoba menjadi sahabat yang selalu ada saat kau butuhkan
Kuyakinkan bahwa tak lama lagi kebahagiaan akan datang dalam hidupmu
kau percaya itu...
Dan aku tetapkan komitmen itu hingga suatu ketika kau datang padaku
dengan kabar yang membuat aku tersentak
" Aku akan menikah.."
Aku diam, batinku bergolak
Ku pikir kebersamaan itu akan berujung bahagia, namun aku salah
bukan aku yang jadi pilihan
Tertunduk aku dalam perenungan, Tuhan... hanya dia yang aku inginkan
tapi bukan dia yang kau pilihkan
Aku tersenyum dalam tangisan hati, " Selamat...semoga engkau bahagia "
Kau berharap aku datang saat hari bahagiamu, tapi apa aku sanggup ?
yang ada justru terucap, " Sesungguhnya aku mencintaimu selama ini, sejak pertemuan 
awal ditempat kerja yang dulu hingga detik ini kau hadir sambil membawa undangan 
padaku... "
Sungguh aku terkejut demikian pun dirimu, diam tanpa kata
hanya pandangan tak percaya karena semuanya sudah terlambat....
Ya... terlambat karena kuucapkan pada saat yang tak tepat


Kau ucapkan kata maaf karena selama ini tak menyadarinya,
tapi semua itu bukan salahmu
Akulah yang tak bisa ungkapkan perasaan , ataukah memang engkau yang tak tanggap ?
Kukatakan padanya, bahwa apapun yang terjadi pernah menjadi yang terbaik
dan pernah kucintai tanpa syarat...
kau tetap berharap aku ada saat engkau bahagia, apa aku bisa ?
Nyatanya sampai hari itu tiba, aku tak bisa datang memenuhi permintaan terakhirmu
Maafkan aku...




Hari hariku seperti gelap, kosong dan senyap
tapi sejak kukatakan kala itu , justru kau sering datang dan memberi semangat padaku
Sudahlah.... buang rasa bersalahmu, karena aku ingin melihatmu bahagia
namun satu hal yang sungguh buatku berarti kau pernah membawaku ke dalam 
sebuah kedamaian jiwa di saat bulan penuh berkah, kau bimbing aku dalam 
shaf doa dan permohonan ampun. Kau pimpin aku dalam ibadah luar biasa
seperti impianku yang terdalam, menginginkan dirimu sebagai imam Islamku
terima kasih walau hanya beberapa kali itu luar biasa bagiku
setidaknya aku tahu bagaimana rasa bersanding di hadapan Tuhan
bergandengan dalam bait bait doa agar kita menjadi umatNya yang selalu
taat dan hanya setia kepadaNya


Tuhan...
walau sekilas , terima kasih kau berikan dia jadi bagian dalam cerita hidupku
akhir episode yang entah apakah sudah usai ataukah memang harus bersambung
Tapi bagiku semua sudah kututup rapat, biarlah hanya jadi kenangan yang indah
dan menyimpannya dalam kalbu ...












*Medio Cinta  2001-2007

Senin, 15 November 2010

Sebuah catatan usang

Tak sengaja kutemukan buku harianku yang lama tersimpan
Lembaran demi lembaran kubuka lagi, kutelusuri hingga tak sengaja 
kubaca sebuah catatan yang pernah kubuat beberapa tahun silam
ah... hampir saja aku lupa bahwa ada sebuah cerita yang terselip diantara
goresan penaku 
Ku ingat kembali sebuah kenangan yang hampir  pudar 
diantara kisah yang pernah ada

Hmmm... masih ingatkah dirimu nun jauh disana ?
Bagaimanakah dirimu sekarang ?
Kuingin sejenak mengingatmu, mengenangmu 


Penggalan kisah yang dimulai saat aku menuju bagian negeriku diujung timur
mengenalkanmu padaku
Sebuah kebetulan bila akhirnya aku bertemu dirimu disana,
walau sama sama 
sebagai anak perantau yang mencari sesuap nasi dan seonggok berlian
kita mulai saling bercerita
Awal yang hanya sekedar perhatian dan saling mengusir 
rasa bosan karena sepi 
bosan berada di alam pedalaman membuat kita saling mengisi hari dan aktifitas
Salam dan sapa pagi bila kita berjalan diantara petak demi petak tambak ikan dan udang
membuatku selalu tersenyum melihatmu
keluguanmu karena  hampir tak pernah terusik dengan hiruk pikuk suasana kota
terkadang membuatku ingin tertawa, walau itu tak ingin kulakukan
kau takjub setiap memandangku , mendengarkan ocehanku
menceritakan seperti apa kehidupan diantara gedung perbelanjaan, perkantoran, 
dan carut marutnya tata kota tempat dimana aku berasal

Kau berbeda dari semua pria yang ku kenal, lucu, lugu dan tak pernah merasa percaya diri
membuatku menjadi bertanya, namun aku kagum dengan kegigihanmu melawan kerasnya
kehidupan dengan tetap tersenyum dan ikhlas dalam menjalaninya


Hari hari begitu menyenangkan karena kita sering berjalan berdua,
menelusuri jalanan yang berkelok kelok melewati lembah dan gunung
menikmati jalanan pantai Ni'u menuju kota Bima sambil tertawa dan
bernyanyi riang, seirama dengan celoteh alam yang besenandung
diantara nyiur dan deburan ombak 
aku bahagia...


Lambat laun seiring dengan waktu, persahabatan yang terjalin 
mendadak berubah...
Kau mulai memberanikan diri menawarkan ikatan lebih dari sekedar teman
Kau nyatakan cinta disaat aku tidak menginginkannya
Aku terkejut dan bingung, karena aku tak sanggup bila melukai hatimu
karena aku tahu bahwa kau butuh penghibur lara hatimu
Terlebih sebuah dilema kala itu karena perselisihan,
pun terjadi diantara keluarga karena sebuah kesalah pahaman


Aku menolakmu..... di saat kau membutuhkanku


Dan kekecewaan sempat kulihat di binar matamu yang mulai sayu
kau terluka... dan pernah terluka 
masih aku ingat langkah gontai diantara pasir pantai yang tertinggal jejakmu
kau pergi dengan harapan hampa karena aku tak kuasa memberi lebih
maafkan aku....




Kini,
setelah 5 tahun berlalu aku mengenangmu kembali
Tak mungkin terulang lagi kisah itu karena kita sudah jauh
aku tlah kembali ke kota asalku
dan akupun tak pernah tahu lagi dimana dirimu berada
Semoga engkau mengerti, bahwa kau pernah mengisi lembaran catatan 
dalam buku harianku....












* Desa laju, Pedalaman Kab. Bima 2003-2005




 

Sabtu, 13 November 2010

Langit cerah Tapi hatiku mendung

Pagi ini langit begitu cerah dengan kuasan warna biru dan awan tipis 
yang bergelayut manja
Puncak gunung baik arah timur maupun barat serta barat daya begitu nampak
menjulang indah, tegas dan mengagumkan
Angin berhembus sedikit keras tapi menyejukkan pagi
Tapi kenapa keindahan itu tak terpancar sama dihatiku ?
Hatiku tetap mendung walau tak pekat lagi, ada apa ?
Kenapa ? 

Pagi ini tak ada sapa dan ucapan yang tegas namun lugas yang
selalu jadi penyemangat hariku
Keriangan yang tercipta mendadak senyap...
ada apa ?
Aku tercekat, diam tanpa kata. Merenung setiap detik yang telah berlalu,
adakah diam itu selalu mengubah keadaan jadi indah atau malah sebaliknya ?
Masih terduduk dalam diam, jemari mulai mengukur huruf demi huruf yang
mulai memainkan peranan hati mewakilkan rasa yang mulai ikut resah
tak ada yang patut disalahkan karena semua sudah tercetak dalam wadah yang jelas
bahwa memang demikaianlah yang harus terjadi...
Tak ada niat untuk menggoreskan pisau pada setiap hati yang merasakan rasa yang sama
Ruangan itu benarlah sudah kututup rapat , namun tak jua terkunci dengan benar
Harus dengan apa aku menyimpannya ? 
Bongkahan batu yang besar sekekar karang kah ? atau cetakan beton yang berlapis
yang harus kuracik agar dapat menutup rapat hingga tak bisa kubuka lagi, karena
aku enggan mengingatnya lagi...


Langit langit hatiku sudah mulai kulukis dengan kuas yang baru
ingin ku torehkan hiasan kupu kupu yang terbang menuju taman hati
yang sudah mulai kutata lagi dengan semerbak harum bunga yang baru
dan hijau rerumputan yang tersiram tetesan hujan semalam
Tapi kenapa aku masih saja menatap syahdu pada lorong kejauhan


Bukan maksudku berteriak " Jangan buka pintu itu lagi !!" kepadamu sahabat ,
bukan itu... 
Aku hanya ingin segera berlalu, tanpa harus berlari 
Maafkan aku yang tak punya niat untuk membuat kau jadi gundah
dan gelisah karena ada gejolak dalam gelombang hatimu saat ini
Kusadari semuanya tak ingin saling berselisih 
maafkan aku...


Bilakah langit kembali cerah di hari esok, bersama dengan hati yang turut serta ?
Semoga....












(Sahabat.... apapun yang terjadi, hitam atau putih akan kupandang dengan warna yang sama sesuai dengan nilai dan warnanya. Tak akan berubah menjadi abu2. Demikian pula aku menilai dirimu tak akan berubah seperti awal kukenal.... )







 

Terluka

Terluka...
Ya, aku memang terluka
Luka itu menganga dan begitu dalam
sengaja kubiarkan tercabik cabik bukan karena
aku ingin menjadi seorang martir, tapi karena aku begitu
menikmati lelehan darah yang mengucur keluar ....
Tetesan darah itu ibarat rintihan hati karena
tak berdayanya diriku merengkuh bayangmu
yang tiba tiba menguap, menghilang tanpa sebab
atau memang harus demikian yang terjadi  ?

Ya, aku terluka  karena sayatan  tajam setiap bait yang kau titipkan
pada pucuk dedauan yang berdesir halus dan lembut menerpa wajahku
Perih ini makin lama makin kebal dan seakan mati rasa saja,
tapi aku benar benar menikmati...

Terluka.... ya, tapi bukan itu yang jadi inginku sungguh...