Rasanya baru sekian detik kupejamkan mataku
diantara lelah yang membuncah ragaku
Tiba tiba aku terbangun dalam lelapku
Kuperhatikan setiap sudut, nyatanya ini bukan pembaringanku
Dimanakah aku ?
Kenapa aku terbangun ditempat yang salah ?
Sesosok bayangan dengan bias cahaya yang terang menghampiriku
Tak jelas guratan wajah , apalagi gambaran seperti apa wujud itu
Aku terduduk dengan diam sejuta tanya
Siapakah Engkau ??
Nyatanya kemudian yang kudengar adalah suara asing yang mengajak bicara padaku
"Tahukah engkau , dimanakah dirimu berada ?"
"Aku tidak tahu, " jawabku
"Bagus jika engkau tidak mengetahuinya "
" Sesungguhnya tempat apakah ini ? " tanyaku beranikan diri
"Disinilah tempat persinggahan sementara sebelum engkau mendapat panggilan dari si Pemberi Hidup " kata suara itu
Aku temangu dalam keterkejutanku
"Sudahlah.... jangan engkau terkejut dengan keadaanmu sekarang, bukankah sewaktu waktu engkau akan mati meninggalkan raga di duniamu ? " seakan dia tahu apa yang ku pikirkan saat ini
"Tapi segala urusanku belumlah selesai kukerjakan, masih banyak hal yang belum aku lakukan dan waktu yang tersisa untukku masihlah sedikit yang aku manfaatkan " tiba-tiba meluncur kalimat sanggahan di balik kepanikan yang melanda
" Jika kau bicara waktu, kemanakah engkau selama ini ? Apa sajakah yang sudah engkau kerjakan hingga seakan waktu tak cukup buatmu ? " tanyanya dengan tajam
"Aku..aku.... " kenapa tiba tiba lidahku kelu , tak satu kalimat pun bisa aku ucapkan diantara peluh yang mulai mengucur
"sudahlah...terima saja takdirmu bahwa waktumu telah habis dalam masa pembelajaranmu "
"Tapi ijinkan aku untuk memperbaiki semua hal yang ingin aku ubah, ijinkan aku kembali dalam duniaku agar aku bisa menyiapkan diri menjadi lebih baik saat Kau panggil aku kembali " kucoba tawarkan waktu padanya
"Apalagi yang ingin kau rubah sementara kekekalanmu didunia sudah diakhiri, kau sia siakan waktu hanya dengan bermuram durja, kau sesatkan hatimu pada hal hal yang hanya menjauhkan syukur nikmat yang kuberi. Belumkah itu cukup untuk membuka mata hatimu ? " hardik suara tadi
Aku sungguh ketakutan mendengar itu, bak petir yang menghantam sukmaku
"Sudahkah itu cukup untuk mencoba mengalihkan aku ? " tanyanya sekali lagi
"aku... "
"Apa saja yang sudah kau perbuat, saat kupinjamkan raga padamu. Kau sia siakan kesempurnaanmu disaat yang lain ku beri kekurangan di beberapa bagian, ku beri engkau panca indera yang sempurna disaat yang lain hanya memiliki satu diantara keduannya, ku beri rasa disaat yang lain mendapatkan kehampaan , Ku beri nafas yang bebas disaat yang lain tersengal sengal ingin mendapatkan kebebasan seperti yang kau punya... Masihkan kau anggap itu kurang ataukah engkau memang sengaja menciptakan dirimu sebagai makhluk yang sombong !!! "
Air mataku mengalir deras, bilur bilur sesal merambat sadis pada seluruh urat nadiku.
Detak jantung yang biasa kurasakan ibarat detak jam yang hanya berjalan sedetik demi sedetik serba melambat dan menyakitkan.
Tak ada lagi kata yang bisa kurangkai lengkap selain penyesalan demi penyesalan yang semakin memelukku dengan sangat.
Seperti inikah rasanya mati ?
Seperti inikah pengadilan yang akan aku hadapi ?
Seperti inikah ?
"Sesalmu adalah tanda bahwa nuranimu masih hidup, diantara puncak egomu yang menggelora " suara itu kembali menusuk pendengaranku, namun tak sekeras yang kutangkap tadi
"Kuberi engkau waktu untuk menghapus sesalmu dengan durasi yang tak sepanjang saat kau dapat seperti kemarin. Basuhlah jiwamu dengan rasa yang baru sebelum engkau benar benar berada ditempat abadi"
Aku tetap saja menangis , tetap terdiam tanpa suara...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar