Senin, 04 April 2011

Aku dan Piano Tua

Sudah lama ku tinggalkan kebiasaanku setiap jeda waktu
merenda nada mengutip syair hingga menjadi sebuah nyanyian rindu
Bersama teman lamunanku selalu kuterbuai dalam khayalan
Apa kabarnya teman sejatiku hingga aku melupakanmu


Beranjak menuju sudut ruang kuhampiri dirimu
Kusam tubuhmu telah kuabaikan sampai waktu tak bisa kuingat 
sudah berapa lamakah aku melupakanmu ?
Perlahan kubuka selimut yang selalu menghangatkan tubuhmu 
debu terusik hingga mengepul bak asap kasat 
Sungguh aku merasa bersalah telah membiarkan tubuhmu menjadi begitu lusuh

Sesaat aku tak dapat berfikir apa yang ingin kulakukan terhadapmu
Namun percayalah, aku sangat merindukanmu
Kusapa dirimu, engkau hanya diam
aku paham akan kemarahanmu
Kubuka dirimu dengan kasihku yang masih sama kuberikan dahulu
berharap engkau masih merasakan getaran yang sama


Jemariku mulai gerakan kunci kunci nada yang selalu kita rangkai
bermain irama bersama harmoni
bercanda dengan lagu lagu cinta yang selalu jadi tempat yang tepat
sandarkan lamunanku
Melodiku mulai mengembara, hadirkan khayalan berkelana menelusuri taman hati yang sudah lama senyap tanpa nyanyian dan bait bait kerinduan


Nadaku semakin mengalir, dengan dendang yang lirih kita berkolaborasi 
sampai pada titik menjelang puncak irama tiba tiba aku hilang suara
Bukan...bukan aku tapi kamu.
Kemana satu kunci nada itu pergi ? 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar