Kisah bermula ketika aku datang memenuhi panggilan kerja di sebuah media
saat berjumpa dengan dirimu, aku benar benar terpikat oleh auramu
Bukan saja wajah yang menarik namun diantara tubuh lusuhmu ada segumpal
keindahan yang tersimpan penuh misteri..
Kau sapa diriku dengan pesona senyummu yang bikin mabuk kepayang
tersungging seulas senyum sambil kau jabat tanganku
Aku bergetar , aku terpana sesaat sampai akhirnya kau lepas kembali
jabatan erat tanganmu
Kau adalah cinta pertamaku....
Tak terkira olehku jika ini akan jadi kisah dalam hari hari kerjaku
Kau berikan semangat dengan bara yang menyala setiap pagi,
dengan kharisma dan motivasi yang ku pandang beda dari yang lain
Kukatakan dalam hati, aku suka caramu...
Kau...
Seperti tetesan embun yang jadi penyejuk jiwa yang gersang
Kau hembuskan nafas kerinduan yang aku dambakan
namun aku hanya bisa menikmati dari jauh karena aku takut dan ragu
Gitar dan puisi yang sering kau tampilkan padaku demi mengingat
setiap orang yang pernah ada dihatimu seakan tak dapat mengubah pikiran
dan gejolak hatiku yang ingin berteriak, aku jatuh cinta....
Kau begitu percaya diri mampu mengikat setiap wanita yang kau ingini
tapi itu bukan aku,
Kau serukan bait bait cinta pada wanita yang kau damba
tapi itu bukan untukku
Aku resah, aku cemburu, namun aku hanya bisa membisu
sampai akhirnya... salah satu sahabatmu tahu bahwa aku menaruh hati padamu
Kuakui padanya betapa aku menyayangimu, namun apa daya ku tak kuasa dapat
ungkapkan apa yang jadi inginku
Hingga akhirnya aku seperti berhenti pada ujung jalan yang tak ada tujuan
Ketika aku harus mengakhiri karir , ada kesedihan yang membuncah karena
aku harus kehilangan dirimu
Aku menghilang tanpa jejak untuk memenuhi panggilan keluarga di perantauan
kuharap kau mengejarku tapi nyatanya itu sungguh mustahil
sangat mustahil...
sampai saat kembali , kucoba mencari dan tetap mencari dirimu
meski hanya sebuah kabar itu bisa buatku tenang dan lega
Dan suatu hari tak sengaja aku bertemu denganmu (lagi ),
kau begitu berbeda dari yang dulu ku kenal
Kau begitu rapi, tak ada kuncir rambut panjangmu dan tubuh kumalmu
Aku takjub dan senang karena kau jauh lebih menarik walau sesungguhnya
aku lebih suka tampilan lamamu
Kita saling berbagi cerita, kenangan saat bersama sebagai patner kerja
sampai akhirnya kau cerita kegundahan hatimu karena begitu banyak beban
yang kau tanggung atas nama keluarga
Aku sedih, trenyuh, terharu dan ingin memelukmu
tapi rasanya ada tembok tebal yang jadi penghalang
Kucoba menjadi sahabat yang selalu ada saat kau butuhkan
Kuyakinkan bahwa tak lama lagi kebahagiaan akan datang dalam hidupmu
kau percaya itu...
Dan aku tetapkan komitmen itu hingga suatu ketika kau datang padaku
dengan kabar yang membuat aku tersentak
" Aku akan menikah.."
Aku diam, batinku bergolak
Ku pikir kebersamaan itu akan berujung bahagia, namun aku salah
bukan aku yang jadi pilihan
Tertunduk aku dalam perenungan, Tuhan... hanya dia yang aku inginkan
tapi bukan dia yang kau pilihkan
Aku tersenyum dalam tangisan hati, " Selamat...semoga engkau bahagia "
Kau berharap aku datang saat hari bahagiamu, tapi apa aku sanggup ?
yang ada justru terucap, " Sesungguhnya aku mencintaimu selama ini, sejak pertemuan
awal ditempat kerja yang dulu hingga detik ini kau hadir sambil membawa undangan
padaku... "
Sungguh aku terkejut demikian pun dirimu, diam tanpa kata
hanya pandangan tak percaya karena semuanya sudah terlambat....
Ya... terlambat karena kuucapkan pada saat yang tak tepat
Kau ucapkan kata maaf karena selama ini tak menyadarinya,
tapi semua itu bukan salahmu
Akulah yang tak bisa ungkapkan perasaan , ataukah memang engkau yang tak tanggap ?
Kukatakan padanya, bahwa apapun yang terjadi pernah menjadi yang terbaik
dan pernah kucintai tanpa syarat...
kau tetap berharap aku ada saat engkau bahagia, apa aku bisa ?
Nyatanya sampai hari itu tiba, aku tak bisa datang memenuhi permintaan terakhirmu
Maafkan aku...
Hari hariku seperti gelap, kosong dan senyap
tapi sejak kukatakan kala itu , justru kau sering datang dan memberi semangat padaku
Sudahlah.... buang rasa bersalahmu, karena aku ingin melihatmu bahagia
namun satu hal yang sungguh buatku berarti kau pernah membawaku ke dalam
sebuah kedamaian jiwa di saat bulan penuh berkah, kau bimbing aku dalam
shaf doa dan permohonan ampun. Kau pimpin aku dalam ibadah luar biasa
seperti impianku yang terdalam, menginginkan dirimu sebagai imam Islamku
terima kasih walau hanya beberapa kali itu luar biasa bagiku
setidaknya aku tahu bagaimana rasa bersanding di hadapan Tuhan
bergandengan dalam bait bait doa agar kita menjadi umatNya yang selalu
taat dan hanya setia kepadaNya
Tuhan...
walau sekilas , terima kasih kau berikan dia jadi bagian dalam cerita hidupku
akhir episode yang entah apakah sudah usai ataukah memang harus bersambung
Tapi bagiku semua sudah kututup rapat, biarlah hanya jadi kenangan yang indah
dan menyimpannya dalam kalbu ...
*Medio Cinta 2001-2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar