Surat itu datang padaku
dalam coretan kusam penuh dengan bekas air mata sesal
perlahan kubaca dengan hati membuncah
getar kurasakan dengan nadi yang berdetak kencang
gemuruh hati buyarkan pikiran sesaat
namun aku paham tulisan itu telah bertutur dalam
bait ketidak berdayaan,
Bicara hati, bicara rasa
kadang sulit memahami tanda-tanda alam yang berbalut
kepalsuan, apalagi mencerna dengan nalar yang sesak
saat gulana menyelinap dalam setiap hati yang merasa hampa
menelusuri lorong lorong yang entah akan mengarah kemana
pada akhirnya akan bersandar pada karang yang tak bersamudra
Aku memahami setiap keadaan karena inilah yang akan kutemui
dalam tahap kehidupan yang semakin berliku
Sandarkan sejenak penatmu padaku
seperti halnya aku pernah terluka pada masa silam
Hitam tak selalu gelap pekat
bila nanti ada seberkas cahaya kasih yang kan kau dapat
maka itulah kesempatan kita untuk menerangi kegelapan
jalan yang akan kita lalui
Kepada hati yang memilihku dalam berbagi...
aku akan selalu memeluk hatimu pada semestinya
dan ruangku selalu ada untukmu....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar